Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2010

aku tak berani kehilangan

Gambar
apa ini akan jadi selarik cerita dari buku hidupku? atau inikah rasa abadi, yang ku nanti, dan tak akan pernah benar-benar pergi? telah kukenakan topeng tebalku, dan aku tetap menyakitimu telah kusumphkan acuh tak peduliku, dan semua masih begitu tetap, jadi si gila langsung kumat saat ingat dia kasihan? tidak juga. hai, inilah cinta, diraskan, kusesap, meyakini, dan kan terpelihara ini hartaku, bukan aib hina, ini hatiku, bukan borok luka aku tetap berjalan, menyambut samarnya dalam gelap, karena lubang topeng ini terlalu sempit, mudah rusak, sangat rapuh ini pelangi, bukan elegi bedakan tulusnya!
main agar kahoo tumsa hashi kayana tme hum safal meri tari fu ye bithu sache kucbhi rahi......

manusia tak sabar

aku memanggil dan aku menggigil karena asa terlalu jauh berkelana melawan diri yang sedari tadi berbaring disini sedang apakah gerangan dia? tetap kuulang tanya, sudah ringan menanggung luka manipulasinya kapan kapan kapan dia tahu aku ini begitu begini kapan dia mau tahu? atau membagi semua kelu kapan?

ada mutiara di senyumnya

kutemukan ketulusan disana, kilau kemilau tak ada bandingannya. bergerak tanpa banyak kalimat tanya. ah, begitu indah. entah berapa tahun selama hidup dia begini. sajikan kemuliaan murni pada sesama tanpa timbang kasta. dan betapa buram mataku yang baru sadari itu. betapa lama? bahkan ketika suatu waktu sadar, tak lama kemudian aku lupa. ajari aku senyummu. ajari si bodoh kebijaksanaan dalam kesederhanaan. ajari senyum bahagia dalam susahmu, pak dhe. keponakan kecilmu masih sangat awam mengenal hidup. mengeja karakter mereka satu persatu benar2 melelahkan, bagaimana bisa kau lewati mereka semua dengan emasmu, dengan diam yang langka. tak butuh banyak dosa. ah, bagaimana mutiara itu bisa kau cipta? berkilauan pula!

kotak harta yang hilang

bagaimana ini? kotak itu melayang ke dalam kabut pekat tak terkejar karena memoryku memudar bagaimana ini? harta penuh rahasia yang ingin kusimpan sendiri nyatanya memilih pergi pulang saja ke pelukku berbaring tenang di samping lelapku kembali saja, terlalu banyak rahasia yang kau bawa bagaimana bila dia yang baca? kotak harta rahasiaku bukan begini caranya bila ingin dia tahu... jangan keraskan lembar2 lembutmu sudah, rasa ini yang terabadi di antara garis wangi adalah harap tanpa akhir... kembali saja, lalu menatapnya dari jauh bersamaku cinta kita untuknya bukan hina itu sebab kita tak harus menghiba untuk buka matanya biar dia akan merasa...pada masanya

duriku...

tanya ini bukan interogatif yang butuh jawab seperti duri lukaku yang nyatanya cuma gelap bagaimana bisa aku masih gila? kenapa juga dia tetap ada? sekedar bayangan itu, sanggup buatku menemukan setetes sakit membatu padahal cuma bayangan dia yang hilang! sampai kapan, penjara ini kukuh di hati?!