Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Perjalanan

Pagi petang kita datang Petang pagi lalu kembali Enam dari tujuh hari lewat di tubuhmu Susurkan biru kelabu di langit Atau senja abu-abu Tak ada letih, bukan hari ini Tak juga layu, buang-buang waktu Di perjalanan kita tinggal Dalam jaring abadi kerja-pulang Jangan bertempik! Tak mau kau hidup lagi?

Sesal Sunyi

Waktu terlewat tidak pernah mendekat tidak juga kembali Pusara memucat Lindap S unyi tangkap sepi Siapa ia yang tak pernah tak sendiri? Lolos melompati daun asam cokelat Di pangkal kemarau jerih Bergemeresak tiap saat, Padahal angin balik tingkap Ia lupa hampa lupa buih Ini luka-luka putih Tanpa masa, mati senantiasa -wahyuni s

Hampir Puisi

Gambar
Hampir puisi bawaku padanya Padahal kau, ya, tak tersentuh ilalang angan muda, rejan angin Palagi anak-anak diorama Tak punya api, cuma bara Tetes air nyuara nyaring di tengah sepi Bulan terpeleset di kolam bapak, dulu Niala tak jadi hitam di air kali Sedang langit, hampir selalu gerak Ingat aku kembali dengannya, bertemu Dekat satu, yang, tak bisa (Atau tak ada?) Hampir puisi, awalnya Terserak-serak mimpi, akhirnya Kita tak mau pisah dari pembaringan! -wahyuni s

Ketika Mulutku Bicara

Ketika mulutku bicara Pertama ialah air, lalu Bangkai yang mengalir tembus di terumbu Lalu mulutku bicara Mendandan bersolek suka cita senja Yang kuning lalu meria nyala Kemudian malam hitam sekal sesak Digulung dingin sendiri Ya mulutku bicara, Tetap tiada jera menjejali kenangan-kenangan Dengan anting dengan gelang juga tiara-tiara buatan Diambilnya dari liang sepi yang acuh Gemar bohong sebab butuh Telingaku luntap, pingin jatuh seperti derak kuda Yang tertiup angin, pasti musna Ketika mulutku bicara Yang tak hentinya Bicara Bicara Bicara mulutku tiap ketika -Wahyuni S

KUINTIP PERIHAN

Gambar
Di sela kantuk malam itu Kuintip perihan lagu dari masa lalu Berbias-bias, menari-nari dalam liang diam Liang dalam Dari kematian atau jiwa-jiwa yang terpisah Bersama arwah, hujan menjadi tali pelangi Tanpa warna Yang indah Yang bukan apa - apa Namun, (lagi-lagi namun) Malam orange menusuk mahligai batu Tersimpan di mataku Perihan perawan layu Indah, dalam tangis dikeriut kalbu Kubisiki kakinya bernyanyi Rambutnya ditetari ria-ria, tinggi cemara Mabuklah jadi aku atau dia Dalam purnama duka Kuintip, sebentar lagi fajar Dan kunanti malam, lain jadi bayang Kita duka bersama Tiada kala Kulumkan jerih-jerih kecil, Di pangku ibunda - Wahyuni S (untuk nama-nama)

PALSU (wajahwajah)

Entah bagaimana di surup nirmaya, Kudengar kuningmu merahmu (padaku) Nan palsu Kulihat renyuhmu renyahmu (buatku) Dan palsu Kemudian diantara setakir cerita yang jatuh, dari gergasi ranting waru musim kemarau Aku jadi lembab sembunyi di bawah akar rumput Takut - takut, gemeretar (menatap kau) Ia bibir palsu tapi senyum-senyum Ia mata palsu yang menyeling ranum Dan mengerling, jerat ayu bergincu beling Aih, hidungmu itu berkeringat! Palsu baunya Pikiranmu susut dibalik riut karat! Berwadak tembaga lunak muda Yang cantik, Hatimu Jiwamu Nadamu Nadimu Rasamu Kau palsu biar ayu? Duh kanda hanuman, amboi palsunya indah! (Tiada jala, tiada jala!)  Geronggong saja dipapa wadah -Wahyuni S Buat kawan lama

Sajak Perkawinan

Kutempa lagi lupa - dan kata - yang kalu Sejak kemarin merah pagi bertemu Mimpiku mimpimu selalu Jadi angin - yang biru itu Mengerling sedikit pada harap, pada hidup Juga surat nan gemar pada cerita Kita lipat kecil anganan Dalam kotak perca bersepuh duri alam Aku kau nan putih Tiada tuba