Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

sekeping cinta

Gambar
di tengah timbunan kuning senja aku diam seperti raja tanpa negara angin pernah menghempas keras sampai anganku hanyut lepas api seringkali menjilati hati terkadang gosong hitam sekarat suatu waktu pernah pula diuji mimpi saat dia menjauhkan nyala dari nyata yang kaprah ketika cinta buatku kalah ketika muka lebih gelap dari merah ketika cerita tercerabut sampai remah aku diam mengenang pernah pinta hilang tertawa karena pernah merawat luka hingga ternyata sudah terlanjur lama seperti patung pajangan sepi batu tepi kolam dengan bodoh masih saja diam sampai mereka lantang berkata "masih ada sekeping cinta!"

fajar keabadian hamba

Gambar
terlalu banyak kalam berdengung-dengung pura-pura hingga menjelang malam dan lelaplah mata senyum-senyum palsu dipamerkan tangis-tangis lugu ditumpahkan lalu berhenti lalu berganti seketika tertampar sendiri benar disini masih terap di keping lembah bumi akan tetapi disini saat ini aku patut bersimpuh berdo'a aku pantas duduk meminta mampu menantang luka di fajar hamba mampu mengais cinta dari Paduka

dia di suatu malam

Gambar
gadis itu tidak menangis sama sekali tenang tanpa suara meski dalam dadanya ramai kata kata meski dalam kepalanya terus terputar satu cerita bukan lagu hanya sedikit luka pilu yang dijaga ketat tiap ujung pagi bersama mentari cerita itu ada tiap tengah hari dan jalan jalan mulai sesak oleh melodi cinta itu ada tiap senja mulai menyapa saat langit memerah seperti jingga cerita itu ada terpapar pelan pelan potong demi potong lalu menyesak tiap satu keping melekat cerita itu ada sampai kini tapi gadis itu tidak menangis lagi

tentang apa dan siapa

bohlam menyala begitu saja api membakar begitu saja hawa menghidupi begitu saja petir menyengat begitu saja ragaku diam gerak tak mungkin sama jiwaku tak pernah mampu kuselam dasarnya dimata dunia akulah dua duanya dimata cinta akulah ujud mereka tapi aku ini siapa? atau aku ini apa? ada akal yang kata orang kekuatan kekal lalu kurayu akalku untuk mengatakan siapa aku ternyata dia diam bukan sebab tak sudi katakan tapi akal tak punya cukup jawaban ada hati yang dunia bilang intisari murni jadilah kubalik arah merayu rayu ruh segumpal darah sungguh malang wajah hatiku yang remah muram, piasnya pucat lemah menyangka dialah yang salah kenapa sampai tak ada jawaban apa aku? siapa? bersama sepotong hati, raga, akal, juga jiwa apa aku ini yang disebut manusia? lalu apa dan siapa manusia? untuk apa ada manusia? aku aku aku kutunggu tunggu disamping waktu aku aku aku tik tak tik tak dan waktupun lalu aku aku aku terdesap lelap_ saat bangun akan kembali kucari_ aku

mencari jelaga

bagaimana bila hilang, bagaimana ketika tak ada lagi rindu datang aku takut asa ini pias seperti purnama temaram yang mengalah di ujung malam aku takut ikat ini lepas dan tak bisa lagi kusiangi kalam aku takut akhirnya sampai pada terang yang terlalu putih pekakkan pandang aku takut tanpa sadar berjalan pelan dan tiba tiba lewati batas padang cinta ini berasa jelaga pahit pekat tak terkata meski tiap kutelan bekaskan liang liang hampa aku mencintainya aku tak mau lupa!

dia, dan cinta itu

cinta itu hilang saat malam menjelang kehilangan dia menangis di bawah remang bayang rindu itu nyata mengetuk-ngetuk lubang jiwa biar saja masuk tak apa semua porak poranda sampai akalnya hilang logika lalu dia sendirian bersama rindu menanti yang hilang cinta itu sudah melayang atau dihempas perlahan seperti karang ketakutan dia takut sekarang apa semuanya telah ikut bersama khayalan? apa dia tengah meunggu demi ketiadaan? cinta itu mencari hati yang tak pernah dia beli ada sakit perih mendekat lirih diam memeluk kenangan rupa buih meski disimpan dengan sejuta rayuan dinding buih tetap akan pecah berantakan cinta itu melukiskan pelangi dari kekosongan kelabu hatinya sendiri dia berdiri duduk terhempas lagi terikat kuat oleh getah mimpi tubuh itu kaku bersama rasa tertancap seperti paku cinta itu selalu memberi semu dia tahu tapi selalu tak tahu tentang dia yang ikut beku seperti boneka salju lagi-lagi hanya teriakkan entah!

rentang

Gambar
rentang bayang mengiris malam hitam pekat batakan gelap aku melangkah aku berlari bahkan kadang ingin pergi akhiri tapi sayangt aku terjebak di rentang bayang di bawah hujan tengah malam terjepit sesak menantinya datang

pinta

ya Alloh jagalah hati yang bukan siapa-siapa jagalah kasta yang tak patut apa-apa jagalah raga yang limbung dimana-mana ya Alloh jadikan puan anak-anak mereka yang penuh sayang sahabat mereka yang teguh berjuang murid mereka yang punya tujuan jadikan puan kawan-kawan yang taqwa jadikan puan seperti mereka yang bermata ya Alloh puan bodoh tapi tak mau tahu puan sombong tak tahu malu puan malas membelit-belit waktu bebaskan ya Alloh bebaskan jiwa puan menuju-Mu

di sisi cerita

saat gelap luruh di awal subuh antara kelebat-kelebat kalam sesal menyesak pelan-pelan menjerah akal si lelaki bermata hujan yang berlubang dalam lalu semburat menyapa warna gelap sama indah seperti senja cahaya mulai muncul memenuhi udara pagi merasuk berkidung yang berjalan bertopeng hitam akhirnya kutemukan sayu lugumu bisa kusirami hati kini mampu ku tawar kelu semakin terang cerita semakin nyatakan aku gila lelaki aneh bertudung kelabu memenuhi kenangan meski harusnya telah kulupa adaku sekarang malah mengairi harapan meski katanya dia adalah luka biar saja godam terus menjerang remukkan sisi demi sisi sapa si lelaki tampaknya batinku tetap tak malu bertahan aku termakan khayalan

sajak penggal malam

laa ilaha illa Allah... izinkan hamba sujud luruh mengesakan rahmah Paduka menggarisi arti hamba yang ujudnya penuh hina Subhanallah... mohon dengar hamba bergumam sungguh mensucikan dzat bercahaya Paduka lalu menangisi lalai hamba yang seringnya terlalu lama melupa Alhamdulillah... hamba berbisik lirih lirih jauh ya Allah hamba memang hina bagaimana kerap mulut hamba diam saja padahal menadah cinta buka mata hamba diam saja... begitu sombong tak ingat paduka Allahu akbar... malu sungguh malu sadari keruh mengendap di sukma hamba hamba bersalah hamba bisa tak agungkan paduka shallallahu Ala Rasul... paduka utus Muhammad pegang sauh menyayangi hamba penuh rasa mencintai hamba tanpa putus asa Muhammad-Mu yang penuh cinta Muhammad-Mu yang penuh cinta hamba umat kerdil mengais ampunan tak sadar kebesaran sang Tuhan ya Alloh terima sembah hamba ya Rasul halalkan darah hamba disampingmu jadiklan hamba umat yang pantas terpuruk memuja-muji di malam lepas astaghfirullah... astaghfirullah... as...

terikat sebuah mata

hawa dan angin hampa sakit juga tumpuk lara hina pula tuna cinta miskin serta buruk rupa yang menemukanmu hari itu di keping sebuah pagi menatapmu yang bermata seperti biru lalu merasa hawa murni yang jernih yang bening menggenggam kasih dan tak akan kering aku merasa lahir kembali seperti tercipta ulang oleh cinta pantas merasa, aku menangkap bahagia dalam nadaku yang nyata tertawa sungguh gila aku terikat mata yang sama

lelaki bertopeng hitam

Gambar
menyukai hitam sebab aku merasa hitam mencintai hitam sebab merasa aku pula kelam menyangka hitam sebab aku tolol tak bermata menggadang-gadang rasa menadah gerimis kira bahagia hah, mataku memang kelam buta warnamu yang kau samarkan kali ini lemah asaku membeku sebab menumpuk jutaan kelu kenapa bertopeng hitam? lalu biarkan aku mengharap kau datang adamu bersinar, seperti para bintang bahkan pelangi bila terbiaskan hujan lalu aku? nyatanya kita adalah dua tepi berbeda meski memeluk satu telaga

malaikat hitam

ada yang membuat mataku terbuka dan menatap ke sana. ada yang membelokkan senyumku ketika menemukan sketsanya. ada yang tak mau melepasku menanti tiap langkahnya. ada yang tak mau bicara tapi berteriak senang mewakili batin menyapanya. yang aneh... semuanya tetap ada. yang aneh... aku masih mencari kembali siluet nyata seorang dia. dan lagi yang aneh... aku bahagia. malaikat hitam, dengan senyum samar berjalan di antara lengang. malaikat hitam, menyirapku dalam memerhatikan ketiadaan. tetap di sisiku dia adalah malaikat, yang kali ini berbaju hitam pekat. tetap disisiku dia adalah malaikat, meski sampai kini tak mampu ku mendekat. seperti malaikat hitam, dia membuatku begitu..... gelap.

menyapa pejuang di bis malam

hummmmh......dingin sekali! kurapatkan baju lapisan keduaku lalu keluar dari neraka beku itu. dengan langkah lunglai aku masuk ke bis selanjutnya, bis malam kelas ekonomi. langsung saja kupeluk lutut dan duduk meringkuk. huwah, memang beginilah nasib anak pesisir, udah biasa kepanasan, eg malah nyoba2 naik patas yang ac_nya kayak kutub utara itu.... pokoknya kapok! mending naik bis nusantara aja seperti biasa. seorang ibu setengah baya ternyata duduk disampingku. tubuhnya gempal berisi, tapi dari sorot mata sayu itu bisa kutangkap kesimpulan beliau sedang tidak sehat. karena sifat ngawur dan ingin tahuku, dengan santainya kami berkenalan. ternyata beliau ini orang pati juga, meski beda kecamatan, tapi gag begitu jauhlah dari rumah. sifat ramah beliau membuatku larut dalam obrolan yang begitu panjang. cocok sekali, aku memang lebih fun jadi pendengar daripada pencerita. jadi sambil mengusir dingin, kudengarkan kata perkata dengan seksama. dulu, mereka adalah sebuah keluarga bahagia, ...