di sudut hujan
garis garis tipis turun perlahan membatasi udara hampa melewati baris daun daun hijau muda meluncur turun terus memecah diri menjadi kepingan air melompat dan berlari angin utara datang kau serong ke sisi selatan hai, mata yang terlalu akrab dengan perasaan ternyata lagi lagi kau bela dia mengintipkan garis tipis dari jendela menerawang bersama udara agar aku pergi dari alam nyata agar aku berlari menemuinya tenang saja meski tak mampu tertawa karena sudah lelah, tak tampak kasat luka memerah hilang suapa tanpa desah tak sampai ada dahaga, menyerah jadi tak perlu aku takut tak akan surut mengenangnya atau pula mengingatnya di belakangku kau bersembunyi di sudut hujan dan aku beku, getas merasakan gemuruh menajam kala tampaknya jantungku belur sampai kakipun mendadak kabur berlari dari jebakan alur hancur, aku sudah ingat pernah hancur karenanya_jika saja sakit tak lagi rasa, menangkap bayangmu dari garis hujan bukanlah soal mungkin juga aku salah, ada yang salah, lalu memenuhi kepalaku...