Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2011

nada tanpa suara

Gambar
dia tahu dia bersalah, dia tahu dia berdosa. dia tahu dia bodoh, dia tahu dia keliru. jelas dia tahu dirinya tengah melakukan sesuatu yang tak ada gunanya. bagaimana disisi rintik hujan pagi ini dia kembali sembunyi. di balik tembok yang sama, sahabatnya yang paling setia. tiap hari, tiap pagi, menjelang siang, tengah hari, kadang sore menjelang malam...saat sosok itu ada disana dia ingin dia akan ada disini. berkawan si tembok putih kecoklat coklatan, mengintipnya berbinar binar. binar, dan debar, yang, entah, mengapa masih dia simpan sampai kalender tahunan ibu berganti hampir empat kali. tak masalah. tiap kali lewat jalan ini dan rumah itu. dia tetap akan berhenti dalam beberapa detik. bersembunyi di balik tembok, mengamati jendela kamar pujaannya yang pasti akan terbuka saat dia ada di dalam sana. tapi pagi ini dia kembali menelan nafas kecewa. gorden biru pastel jendela kaca itu tak tersingkap. senyap. berarti tak ada dia didalamnya. meskipun begitu, dengan berharap saja hatin...

babak-babak sahabat

Gambar
kosong dan sebelas_first episode siti berlari, melewati kerikil kerikil keperak perakan di sekitar jalan. sekar tersenyum, layaknya gending kalem yang mengalun di pendhopo kota, indah. ada hampar biru di atas, kesukaan mereka berdua. ada tas biru, terselempang di pundak siti. bergerak gerak sealur langkahnya. ada agenda biru di genggam tangan sekar. seperti biasa, masih seperti dulu saja. dan ada rindu, berpendar pendar bersama biru. warna keabadian, untuk persahabatan. babak 1 ada bahagia, tahun ini seakan akan mereka sudah dewasa. setiap mata awas mengamati kelas mereka setahun kedepan itu. agak gelap, mungkin juga sedikit pengap. tapi tak masalah, asalkan dapat tempat strategis dan konco kumpul yang cocok, sudah cukup mengubah ruang temaram dengan diameter sekitar 6x6 meter itu menjadi surga tempat mendulang ilmu. "siti! kita sekelas? akhirnya... setelah kepisah dua tahun. sini, sini, jejerku saja". mendapati sahabat lama yang tenga menawarinya tempat duduk itu, s...