Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2017

PUSTAKA KALA

Konon- bau buku menyelumpit diantara kertas-kertas layu menggerogotinya usia segala angin, segala dingin, juga debu tentu aroma malam yang kurindukan persis berdiri dibelakangmu antara rak berkayu juga tembok yang tak selamanya muda disini usia terparut jadi melodi menenangkan mata bening kanak-kanak yang selalu terbuka mimpi para tetua berlari dalam diam juga keresahan diriku ikut larut melewati sangkar kaca terbuka semua jala dan penjaring duniamu yang gelap melandai saat ini dari buaian kaku aneh, menyenangkanku Jadi- ijinkan ragaku sebentar memuda lepas mentari pergi aku akan kembali memutar roda-roda mati tua akar tanganku sendiri

LULU La LURU

BAGIAN SATU- Pada akhirnya terlaku juga profesi laknat itu, TUKANG CARI TAHU! Sebab nyatanya jadi kusibak halaman biru facebook nan tampak teduh makin riuh makin jauh. Apa-apa ada disana, dari selfian bareng pacar, make-up terbaru, sampai mereka yang gemar 'berbagi'menu makan. Meski begitu rindu juga aku pada rumah hantu ini, maklum sudah dua tahunan tak disambang. Apalagi tanpa butuh lama satu nama kudapatkan dari bilah pencarian. O, dewata, sungguh brilian benar kampung Facebook yang maha kuasa! Klik klik klik klik penuh hasrat, sayang sial biji pepaya, posting terakhirnya sudah lewat setahun lalu dan berbunyi "SELAMAT TINGGAL FACEBOOKKU!"  

AMORA MARI

Mari mari la la la la Apa lacur jika daya sudah lepas Aku tak kenal waktu, kataku Jadi siapa gentar cakarnya yang kental? Mari mari kusiap ribuan duri kupetik dari bolong bohong bilik terhitam Lalu lihat, siapa yang gentar! Iya iya la la la la Aku hina dina rendah miskin bangsat bajingan Kemunafikan muncul dari mana mana teras nadiku ada Menari-nari teriak aku aku AKU! Iya aku tidak apa! Tidak riut Tidak carut Tidak luka-luka, soal di wajahku, ada pelawak bermuka dua Itu liriknya bingungkanku, selalu Baik baik, beginilah riuh hidup! Yang merah hidungnya Yang kuning pipinya Yang biru di kaki-kaki Tahu aku segala lendir tipu rayu! Hampir segala, kurasai.. h ik hik Mari mari la la la la Himnekan saja himnekan saja Tanganku tidak bicara Tapi api merambat di niala 24 okt 17, Wahyuni S Tanah biru_

KALA TEMARAM

Hari berlalu pelan dan sunyi Namun ingatan melompat begitu jauh Di telapaknya semua ialah kala Bertelempik diantara lupa cerita Detik merambat panjang dan pasti Penuhi batang pohon tua yang cokelat Keabuan Seperti lelah guraukan fana Jenuh tak kunjung lepas, Bahkan ketika kupu-kupu jingga Dan hijau Dan kuning mayang Tinggal dari angin dunia seberang Dan waktu mengalir tanpa air mata Peduli tidak pada luka duka dan nganga Setengah aku kukuh di kakinya Separuh lagi merajuk pada matanya - kian nyala Maka hitampun mengaku Merah menyaru Gading dan lendir putih - rantas Di tapak pohon - retas

SIKLE

Sikle - mendung kembali jadi Di rautnya tak akan ada matari Hanya sedikit sedikit berbisik cahaya Namun tak berdaya sepersekian pun Membungkus gerah resah di dada Hanya jutaan itu mantra, Lalu sudah Gelap merentang tiba Seperti akan hujan, Bisik seorang pemuda pada kekasihnya Apalagi pelangi? Itu gerimis saja seperti turun, tidak berwarna Bagaimana, tidak buta? Kekasih tersenyum tidak peduli Berdiri - tontoni hujan merintik kecil Dan kawanan mega gelap juga petir Juga angin dingin dari utara Jelma jadi rona baru dikail harap Tebat hidup tercinta 22 okt 17, Wahyuni S

KEMELUK

Menyeruling batuk bau bensin dan jalan nan panjang Dari belakang kaca kusam sewarna awan tak berujung, seakan Berdiri aku kena hujan bedebu, bebatu Berair beradu Ragu, lalu Mengingat ingat kaisi kias waktu Debam jalan jalan besar setapak Di antara entah, sampai mana kenangan terlupa menjelma? Persis darimana kutilang subuh biru berderai? 13 okt 2017 Mawana

Basa Basi Tapi Datang Juga

Gambar
Ceritanya malam sedikit sibuk benar jika ingin jujur. Tetapi dapat kabar sebuah acara bincang sastra dengan poster nama Sapardi Djoko Damono juga Djoko Pinurbo, cukup menggodaku. Jadi, agar tak kacau kubereskan tumpukan kerja dan pesan-memesan lebih awal dari hari biasa. Untuk menunjukkan tekad, kuulang-ulang juga harapku buat datang pada Tiyok, sore itu. "Sebaiknya kita datang, aku cukup penasaran" "Bang Pao saja sudah berkomitmen betul, meski job joki skripsinya lagi rame," lanjutku. Tiyok, yang kukira cuma bakal diam ternyata menjawab cepat, "Oke, sudah lama aku pengen ketemu mbah Pardi" Lebih lega mana antara dapat pelulusan atau mendengar Tiyok mengatakan asanya, setelah bertahun-tahun tak mau sentuh apalagi baca-baca perihal sastra. Di hari kemarin dia masih menatapku sedikit iri, sebal, sedikit kagum, dan menerawang ketika aku mulai membuka buku. Namun entah ada angin apa, atau memang sudah tidak tahan 'berbohong' pada gel...

cerita

kala itu hampir malam meleleh ke punda karat udara makin berat dan cerita pun merayui ingat asing bukan asin garam mengeja dunia kembali dari pucuk lelehan masa lalu duduk diujung berteriak sendiri menindih karpet warna perdu asing bukan asin garam bercampur manis sekerut rupanya diam

racau

hancur satu halus dan menyatu keinginan bercengkeram rasa takut indahnya, sesaknya, tamasya kabut seperti mencinta musuh dan kawan memeluk menusuk kucakup leleh embun gigir pagi itu di atas luka menganga bukan kanak lagi selaksa mimpi alam alam satu satunya pegang belati di nadi di pucuk punda dan duri duh, mataku nian cantik temaram lepas satu terdalam