Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2011

Beri aku satu kata tak bertopeng

mana bohong mana benar, dan aku percaya begitu saja kebas kurasa luka tapi keras kuraba cinta siapa dia, kau panggil ku riska kau bilang dia luka kau samakan lakuku dengannya siapa itu? yang bilang kau tergugu mana topengmu? biar kurobek sekarang aku lelah! muak! marah! tapi kau tak ubahnya darah di inti nadiku bila kubunuh aku mati satu kata dari balik mata berikan jawab nyata dia kau panggil aku? atau aku kau panggil dia? dan kenapa? tampaknya aku batang patah yang kukuh berdiri betapa aku benci!

CiNtaKu

matahari, boleh kupinjam sinarmu barang satu jenak? berhentilah di hadapnya masuki mata sayunya bisikkan di telinganya aku mencintainya seperti cintamu bersinar memandang alam tanpa lelah meski mendung kerap membelah ibaratkan dia bumi, aku mencintainya seperti matahari tak ingin berhenti karena aku matahari, mencintaimu adalah bahagiaku

rintik rintik Bunga

ingat, ketika mendung menggelap di sisi itu dia lihat cahayanya dingin, dan angin tak ambil pusing tapi di biarkannya basah merembes sampai ulu hati karena ditemukan carinya ditangkupkan tangannya mendengar suara surga itu meski teriak tak merdu dia merasa menggenggam rintik rintik bunga mengipasi api cinta dengan tumpahan hujan penuh warna ingat, ketika itu benar benar bahagia kuingat dengan lekat, hujan bulan Desember 2010

sayang..

yang kulihat hanya wajahnya bagaimana senyumnya juga tegap langkahnya yang ku tatap cuma aneh sikapnya loncatan gerak matanya betapa lugu suaranya yang melekat adalah katanya bentuk tiap hurufnya dan buku kesukaannya sayang tak ku ingat lebih awal, jika akan sangat mencintainya

tidak baik

hidup telah berubah lembaran masa lalu pula rebah sudah berganti karena pergi seharusnya hatipun tak lagi begini bukan benar menanti dinantipun tidak mungkin kembali benar, salah merindui dirindui tanpa henti tak membuat balas dicintai tidak baik terkungkung malas dalam khayalan dan terkurung lemas dalam angan rasakan gelombang kecil permukaan kolam itu yang terus berjalan mengejek gadis lemah di tepi terdiam memangku mangu tanpa pasti aku ragu dia masih punya mimpi. january_

kata kopi

Gambar
Gelas gelas bercengkerama ajarkanku berat ringan suka duka juga bisikkan rahasia luka tawa oh, mataku membulat ceria dia bilang lewat harum uap hidup cuma duka yang terus menggelap perlahan, kasab kasab akan mendekat juga tak ditolak dia bilang tenang saja dan aku tersesat dalam tawa hitam kopi pekat, pikat gumam tipis tipis di lubang telingaku, deritalah drama merdu bila terhanyut kau akan menangis slamanya topeng drama hi ha hi ha! dibaliknya hidup nyata tinggal disana bahagia jangan hanyut, intiplah intip sekedarnya -Mawana

Alasan

Gambar
alasanku berpuisi adalah namanya yang jejali hati adalah dia yang seakan pergi seakan pula kuinginkan kembali alasanku berpuisi, adalah tumpukan desah tanpa tepi genangan yang tumpah lagi dan lagi memenuhi detikan mata juga mimpi alasanku berpuisi, yang ciptakan ratusan bait bait sama isi berharap rindu berhenti di sini atau sebentar lagi

hanya yang ingin bicara

ada kosong terlalu banyak ruang ruang bolong mengurat di ototku mengakar di otakku kosong ini memanggil hampa dan hampa mohon bicara aku adalah dia adaku adalah kamu tanpanya bagaimana nafasku tak miris atau mataku tak mau menangis satu satu rinai gerimis suguhkan bayangnya tipis tipis rasanya angin utara luka, sebab tak jua kutemukan dia