Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2012

tira-tirai angin pagi

Gambar
tirai angin pagi menampar muka nenek tua selarik-selarik gemetarkan kulit keriputnya sekali-sekali terpejam mata menepis hawa kadangkala di ujung lampu hijau nenek tuaku bersandar lelah tirai angin pagi kedua_ tubuh nenek tua tegak lampu merah sudah menyala saatnya koran seribuan dijajakan entah sampai berapakah tapi nenek tuaku tak lagi tampak lelah mungkin sudah dia sembunyikan di dinding hatiku yang terasa penuh melirik trenyuh bergantian ke nenek tuaku dia berlarian di jalanan ke mesin-mesin angkuh kilat empat rodanya acuh tirai angin pagi kabarkan nenek tuaku tidak salahkan keadaan a, nenek tuaku sayang tetap saja hatiku menanyakan arti kepedulian sampai kapankah kau akan jadi ibu untuk jalanan? dia sudah dewasa

masa 'lalu depan'?

Gambar
yang ada ialah duka berbalur tawa dan nyata-nyata kadangkala senyum membumbui tangis dan luka hanya itu berputar sepetak petak melompati alun waktu lalu apa itu arti masa lalu depanku? yang tersisa di hariku sekarang adalah sobekan kesempatan dan tak akan pernah habis sampai hawaku berbaur dengan wangi kematian

kertas hujan

Gambar
hujan membawaku pada kerinduan cinta bilang ingin sebaris ciuman penuh apa yang bisa kulakukan? mata dua dijegal panas cinta nafas lepas dijaring nafas cinta lalu apa yang bisa kulakukan? sayang, kamu menjerat kewarasan sayang, cintamu buatku ketakutan sayang, rindumu menjebak akal datang, ingin kamu datang sayang, ingin kamu sayang

maafkan aku, Bapak!

Gambar
Lewat mata bening di wajah lelah hari itu bapak tersenyum setengah setengahnya lagi tangis tergantung lemah waktu itu, aku bilang, kita akan pisah, bapak aku juga beraut lelah setengah gundah setengah setengah-setengah meski dalam hati semangat bukan patah apalagi kau bilang telah tiup dengan restumu Bapak, maafkan anakmu, aku Api itu kini kulubangi sendiri