tira-tirai angin pagi


tirai angin pagi menampar muka nenek tua
selarik-selarik gemetarkan kulit keriputnya
sekali-sekali terpejam mata menepis hawa
kadangkala di ujung lampu hijau
nenek tuaku bersandar lelah
tirai angin pagi kedua_
tubuh nenek tua tegak
lampu merah sudah menyala
saatnya koran seribuan dijajakan
entah sampai berapakah
tapi nenek tuaku tak lagi tampak lelah

mungkin sudah dia sembunyikan
di dinding hatiku yang terasa penuh
melirik trenyuh bergantian
ke nenek tuaku
dia berlarian di jalanan
ke mesin-mesin angkuh
kilat empat rodanya acuh

tirai angin pagi kabarkan
nenek tuaku tidak salahkan keadaan
a, nenek tuaku sayang
tetap saja hatiku menanyakan arti kepedulian

sampai kapankah kau akan jadi ibu untuk jalanan?
dia sudah dewasa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita lama dan Penghianatan

my world...my words....

mencoba IKHLAS itu indah!