Cerita lama dan Penghianatan
Malam ini baiklah aku cerita sedikit tentang penghianatan, dosa asal manusia yang konon tak dibuat oleh tuhan. Dengan kata lain, penelikungan kepercayaan atawa penghianatan ini adalah masalah yang dibuat sendiri Oleh manusia. Benar tidaknya, aku tak ambil pusing, aku lebih memilih condongnya saja sebab segala hal yang tercium bau penghianatan pastilah menusuk hati. Lihainya, dibalik setiap kata hianat mesti ada sebuah 'rahasia', Oleh sebab itu bisa terlewat hidung sampai menusuk jantungmu langsung.
Bukan satu dua kalilah aku dengar tebtang ini, masa sd adalah cerita penghianatan pertama yang kualami. Temanku mina namanya, yang tidak begitu pandai belajar dan lebih sering kuconteki ternyata lebih pandai masalah perasaan. Otakku yang masih kecil sekecil umurku tidak nyana bila mina memiliki perasaan istimewa pada teman laki-laki sekelas, yang, duduk tepat di belakangku, EKO namanya.
Dimataku tidak ada yang istimewa dengan EKO, dia Anak laki-laki jahil, malas, dan slengekan seperti lainnya. Kami tidak banyak bicara, hanya saat butuh saja dia memanggil namaku dengan terpaksa, dan menusukkan pensil di punggungku, untuk memberinya jawaban sebuah soal ujian. lama-lama EKO makin sering minta bantuan, bahkan pada akhirnya kerap pindah duduk di bangkuku, merapatkan tubuhnya padaku dan memintaku menjelaskan sebuah materi yang dia tidak paham. Dari tidak nyaman, muncul juga rasa bangga di dadaku. Aku suka mempermainkan kelambatannya menyerap pelajaran, lalu berada di atas angin memberi penjelasan padanya satu per satu. Aku suka dihargai, dan dia suka mendapatkan guru pribadi tanpa banyak hukuman atau makian.
Jadi secara alami begitulah perkawanan kami terjadi. Hanya ada empat laki-laki di kelas kami, dan untuk menutupi perasaan minoritas tentu wajar akhirnya mereka membentuk semacam geng yang solid. Kemana-mana bersama, jam olahraga satu kelompok, jajan di kantin barengan, sampai nakal dan dihukum guru pun sering bersama-sama. Geng tidak resmi, tapi solid. Mereka tidak pernah peduli anak-anak lain sedang apa, asal tetap bisa jahil-jahilan sama-sama. Dari EKO, aku direkomendasikan masuk jadi anggota geng kelima, semacam anggota istimewa karena kami tidak bisa mengubah jenis kelaminku jadi laki-laki. Jadilah aku sang putri, begitulah yang kurasakan, sebagai satu-satunya perempuan dalam kelompok ini.
Tugasku dalam geng tak berat, asal bersedia menjelaskan semua tugas PR dan membantu sebisanya dalam ujian, mereka sudah senang. Entah kenapa sejak kecil aku yakin laki-laki adalah jenis manusia yang tidak suka menuntut dan suka bersenang-senang. Mereka juga begitu mudah memberi kepercayaan, namun tidak meminta ikatan. Senang sekali di SD tahun terakhirku bisa bermain dan belajar dengan kelompok laki-laki sebebas itu. Tidak seperti ibuku, yang sering mengritik sifat tomboiku dengan nada kecewa. Selain tidak suka, aku lebih merasa sedih.
Mina adalah teman sebangkuku sejak kelas empat sd, itu artinya jauh sebelum kenal dekat dengan eko di kelas enam aku dan mina bisa dikatakan bersahabat. Sayang memang perhatian dari lawan jenis terlalu menyenangkan, membuatku terbawa perasaan diistimewakan dan mina merasa teracuhkan. Keacuhan berbau kebencian pun bisa dimiliki Seorang Anak perempuan umur 11 tahun.
Padahal bersama mina, aku punya juga kelompok belajar khusus cewek yang terdiri dari aku, mina, rina, Debi, dan ria. Biasanya dua minggu sekali kami belajar kelompok di rumah salah satu anggota secara bergantian. Selain belajar, kami juga bermain banyak hal, engklek, lompatan, monopoli, boneka-bonekaan, rumah-rumahan, sesekali bahkan berpetualang di pematang sawah atau area pertambakan yang ada di kawasan pinggiran desa. Berpura-pura sebagai Tim penjelajah macam unyil dan kawan-kawan, kami jalan kaki sejauh mungkin secara acak. Kami suka menemukan hal-hal baru, seperti bunga kertas di pinggir jalan, bunga matahari di kebun seseorang yang saking cantiknya begitu ingin kami curi, atau menerka-nerka nama dan fungsi tanaman liar yang tampak memikat hati.
Sebenarnya semenjak aku dekat dengan kelompok laki-laki, aku tetap menepati setiap janji dengan geng mina, sebut saja begitu ya... Waktuku di jam sekolah lebih banyak bersama Eko, atau Abdul, atau Ahmad, atau Yono, tapi begitu bel pulang berbunyi aku pasti kembali dengan geng cewek yang kusayangi. Melakukan berbagai rencana dan rutinitas dengan senang.
Tapi begitulah, mina ternyata meradang. Baginya, memiliki satu geng di sekolah adalah hal istimewa, tapi ada dalam dua geng adalah keserakahan.
(bersambung) 2:51
Komentar
Posting Komentar
mau ngomong? monggo....