nada tanpa suara


dia tahu dia bersalah, dia tahu dia berdosa. dia tahu dia bodoh, dia tahu dia keliru. jelas dia tahu dirinya tengah melakukan sesuatu yang tak ada gunanya. bagaimana disisi rintik hujan pagi ini dia kembali sembunyi. di balik tembok yang sama, sahabatnya yang paling setia. tiap hari, tiap pagi, menjelang siang, tengah hari, kadang sore menjelang malam...saat sosok itu ada disana dia ingin dia akan ada disini. berkawan si tembok putih kecoklat coklatan, mengintipnya berbinar binar.
binar, dan debar, yang, entah, mengapa masih dia simpan sampai kalender tahunan ibu berganti hampir empat kali. tak masalah. tiap kali lewat jalan ini dan rumah itu. dia tetap akan berhenti dalam beberapa detik. bersembunyi di balik tembok, mengamati jendela kamar pujaannya yang pasti akan terbuka saat dia ada di dalam sana.
tapi pagi ini dia kembali menelan nafas kecewa. gorden biru pastel jendela kaca itu tak tersingkap. senyap. berarti tak ada dia didalamnya.
meskipun begitu, dengan berharap saja hatinya sudah melompat lompat. bahagia mendapati betapa besar dia memiliki cinta. cinta ini akan dia jaga, pasti, tak peduli betapa banyak orang yang terkejut seandainya semuanya terungkap suatu saat.
dia berjalan pulang. menekan dadanya yang bergetar hebat.
"oh, kapan dia akan datang? rinduku berkarat!" teriak jantungnya sekarat.
_
di dapur, dia sedang mencuci apel yang akan dihidangkan untuk ibu dan tamunya. perlahan dan hati hati, diusapnya kulit apel dari pasar yang terkontaminasi debu debu pekat sampai licin mengkilap. ah, bahkan saat beginipun otaknya masih memutar episode episode kenangannya bersama hati itu. kenangan ini memang terlalu banyak, jadi tak akan pernah habis ia sesap.
masyaalloh... menghirup nafas lagi. mantra ampuhnya saat sadar bahwa dia tengah bersalah. bagaimana mungkin dia bisa sampai terjebak sedalam ini?
dia cepat menggeleng. bersama dua cangkir teh manis di atas nampan cantik, dia antar sepiring apel menggiurkan ke ruang tamu.
"wah nduk, kok sampai repot repot, lho! kalau tiap kali budhe datang kamu bawa buah begini, bisa bangkrut ibumu nanti. budhe kesini kan tiap hari." lalu beliau tertawa.
dia tersenyum. budhe yang ramah dan menyenangkan memang pantas ia beri senyuman. beliau teman karib ibu sejak kecil sampai anak anak mereka dewasa. benar benar sahabat sejati yang patut dapat trofi seandainya ada award untuk persahabatan terlanggeng sedunia. sebenarnya ibu itu cukup pendiam dan seringkali sibuk dengan pekerjaan beliau sendiri, mengurus toko kain, taman baca, dan galerinya. tapi budhe hampir tiap hari, penuh semangat akan menyapa dan bilang mau mampir sebentar lagi. anehnya, ibu, meski ada urusan apapun, sesibuk apapun, akan menundanya sejenah dan dengan senyum cerah menanti kedatangan budhe ke rumah.
sementara dia, tanpa sadar telah berubah menjadi semacam penggemar rahasia. saat mereka berdua berkumpul, dia akan dengan senang hati duduk diam mendengarkan. dia bahagia bisa mengamati dua sosok menakjubkan yang bercengkerama tanpa kenal waktu. penuh energi positif membahas semua hal yang mereka alami dan ingat. meski harus menanggapi sekali kali, tapi sejujurnya dia lebih suka menjadi penonton.
"ndak papa og budhe, kalo perlu nanti buahnya dibungkus aja semua buat firman."
budhe tertawa, ibu melotot. mungkin berisyarat, "hus, ndak sopan nduk!" tapi apa pentingnya mata melotot ibu? toh dia yakin ibu tidak serius. melihat tawa lepas budhe jauh lebih penting. entah apa resep senyum tulus itu... sampai bisa membuat orang lain yang melihat ikut bahagia.
"nduk...nduk.., kamu sekarang sudah bisa guyon tho? wah, senang hati budhe. tambah bangga, punya ponakan ayu, pinter, gak neko neko, lucu pula! hahaha..."
dia nyengir dipuji setinggi langit begitu, walaupun yang muji itu budhe yang memang selalu memujinya ribuan kali, tapi bisa jadi milyaran kali.
"sini, sini, duduk disamping budhe saja. jangan dekati ibumu yang lagi akting melotot," lanjutnya. dia tergelak. mata ibu tambah bulat, tapi bibirnya tersenyum. dia mengangguk, duduk disamping budhe. penuh sayang budhe mengelus kepalanya. seperti biasa, selanjutnya budhe pasti akan mengeluh sekaligus bersyukur betapa cepat waktu berlalu. bercerita bahwa dulu dia adalah malaikat kecil yang beliau kudang kemana mana. lalu belagak kaget sekarang si malaikat kecil sudah kelas dua MA. padahal tiap hari budhe melihatnya tumbuh, bagaimana bisa kaget? ah, budhe!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita lama dan Penghianatan

my world...my words....

mencoba IKHLAS itu indah!