babak-babak sahabat
kosong dan sebelas_first episode
siti berlari, melewati kerikil kerikil keperak perakan di sekitar jalan. sekar tersenyum, layaknya gending kalem yang mengalun di pendhopo kota, indah. ada hampar biru di atas, kesukaan mereka berdua. ada tas biru, terselempang di pundak siti. bergerak gerak sealur langkahnya. ada agenda biru di genggam tangan sekar. seperti biasa, masih seperti dulu saja.
dan ada rindu, berpendar pendar bersama biru. warna keabadian, untuk persahabatan.
babak 1
ada bahagia, tahun ini seakan akan mereka sudah dewasa. setiap mata awas mengamati kelas mereka setahun kedepan itu. agak gelap, mungkin juga sedikit pengap. tapi tak masalah, asalkan dapat tempat strategis dan konco kumpul yang cocok, sudah cukup mengubah ruang temaram dengan diameter sekitar 6x6 meter itu menjadi surga tempat mendulang ilmu.
"siti! kita sekelas? akhirnya... setelah kepisah dua tahun. sini, sini, jejerku saja".
mendapati sahabat lama yang tenga menawarinya tempat duduk itu, seoyum siti merekah. di tingkat baru, satu aliyah, saat banyak wajah wajah baru dia temui, siti merasa beruntung menemukan ulfa sebagai teman sebangku. mereka sudah sangat akrab sejak dulu. dimulai dari saat saat sulit mereka bertahan di tahun pertama sebagai anak baru. dan dia tahu sekarang ulfa sudah cukup mapan sebagai spesialis pidato apalagi pidato boso kromo di berbagai acara sekolah.
obrolan hangat mengalir begitu saja. memang sangat nyaman duduk berdampingan dengan kawan yang sudah lama dikenal. rasanya ada tenang, kelas baru inipun jadi tampak 'biasa'.
"hai, kalian sudah kenal ya? asiknya...! kenalan donk!"
percakapan seru itu harus berhenti. wajah asin yang cantik di depan mereka tengah mengulurkan tangan.
"ocha"
"siti"
"ulfa"
mata polos siti mengerling. teman sebangku ocha yang duduk tepat di depan ulfa tidak bergeming. kenapa anak ini? terlalu pendiamkah? sampai tak berminat mengenal mereka?
"itu?"
"namanya sekar, sahabatku sejak wustho. maklumin ya, sekar memang agak diem sama orang baru. tapi kalo udah lama kenal, dia asik juga kok!" jelas ocha dengan wajah ramahnya.
siti melirik anak itu lagi. dia agak sangsi dengan ocha. masa iya? tingkah kalem dan senyum yang sama sekali nggak mengembang, bahkan juga kelihatan sedikit gugup. apa anak itu bakal cocok sama dia?
babak 2
"ada orang gila nulis namaku di meja".
"wah bener nih! gedhue banget lagi, SEKAR ARUM. wiy... diem diem sekar punya secret admirer nih!" goda siti.
dan sekar yang acuh dengan masalah begitu, menghapusnya dengan wajah kecut.
babak 3
"curang kamu kar, suka ngeluh nggak bisa apa apa, nyatanya gambar kamu bagus banget gini kok!" siti bersungut. sketsa selebar kertas hvs di tangannya itu sama sekali tidak bisa dibilang tidak bagus. bahkan ekspresi tokoh dan degradasi bayangannyag benar benar seimbang.
"ya itu kan buatnya metenteng ti, demi persahabatan kita berempat. lagian aku juga jiplak dari komik kok, nggak kayak gambar gambar kamu yang original." sekar yang imut mencoba membela diri.
"nggak ada rendah merendah lagi, pokoke tahun depan kalo aku masuk majalah lagi, kamu kudu mau ikut jadi redaktur. bakat kamu kudu diasah..!"
"jangan deh... aku nggak bisa apa apa."
tapi siti tak bergeming, dia sudah yakin sekar pasti bisa, tinggal ngembangin percaya dirinya aja.
babak 4
"tuh kan... bahasa kamu bagus, komunikatif. pak anwar juga bilang begitu kok!" puji siti. puas memandangi artikel buatan sekar yang dimuat di majalah dua bulanan sekolah sekaligus dapat pujian artikel terbaik dari pak anwar_pembimbing redaksi.
"ah, nggak juga. tulisan jelek gini kok kamu bilang bagus. ngeledek?"
"sekar!"
babak 5
"selama tiga tahun kita sekelas. kali ini, di tahun terakhir kita kudu jejeran. salah satu harus berangkat awal trus nyari bangku depan, biar paling enggak kita bisa lebih temenan! gimana?"
"siipz!" sekar mengangguk mantap. setuju dengan semua ide sahabatnya.
babak 6
"ada yang salah, apa mungkin aku jatuh cinta? nggak mungkin, nggak mungkin aku bisa suka sama dia!"
"rasakan saja seperti seharusnya ti, nggak usah dibuat susah. kalo kamu sangkal nanti rasa itu malah makin kuat."
"aku nggak tahu, nggak sadar. rasanya jadi orang lain yang gag tahu apa apa kalo sama dia. malu banget waktu inget semua hal bodoh yang kulakukan begitu saja. apa cinta memang begini?"
siti tampak kalut. dan sekar yang sebenarnya ngantuk banget setelah begadang semalaman nyusun KTA berusaha tegak mendengarkan. dengan mata merah dan sipit, dia tepuk tepuk pundak siti.
"sabar sob, sabar..."
babak 7
DUAK!
bunyi itu melengking di telinga siti. mata ngantuknya mengerjap-ngerjap. antara sadar dan gag. di hadapannya sekar berkacak pinggang dengan muka masam seperti tomat.
"siti..! kenapa malah tidur sih? aku kan lagi nggak ngantuk, pengen ngobrol!" serunya tanpa rasa bersalah mendorong dan memukuli bahu korban yang lagi ngluntruk. terlalu ngantuk, soalnya seharian tadi dia kudu keliling kajen buat nyari bahan mading edisi khusus.
" ngantuk nih... udah deh kita 'mati' aja, mumpung jam kosong!"
"halah...tapi kan aku gag ngantuk... ayo bangun dong! kita nyanyi aja, ya ya ya?"
"ya..." siti menegakkan kepala dengan mata setengah terpejam. dari pada maksa tidur di tengah gempa. sama saja, tidak akan bisa.
babak 8
"pas jalan jalan di mall, aku lihat ini dan langsung inget sama kamu. jadi aku beli ini buat kamu. maaf ya, jelek..."
terperangah, siti mengerjap. tak percaya melihat benda mungil yang kini di tangannya. baru kali ini, sekali ini ada seseorang yang melakukan kejutan kayak gini buat dia. sekar...
speechless_
babak 9
"kamu mau apa buat kenang kenangan persahabatan? tapi jangan yang aneh aneh ya, soalnya kamu udah aneh. hahahaha.." tawar siti hari itu, di cawu tiga tahun terakhir mereka.
"nggak aneh kok, aku cuma mau buku puisi kamu. kalo udah penuh kamu kudu ngasih ke aku, ntar pasti kusimpen baik baik deh! boleh kan?"
"ha? tapi... ini kan... nggak bisa yang laen?"
sekar menggeleng cepat.
melihat kesungguhan sekar siti ngangguk juga.
babak 10
tubuh siti kaku sesaat, tangannya bergetar menahan selembar kertas. tiba tiba air matanya muncul, lalu turun begitu deras. tidak, dia tidak boleh menangis. paling tidak jangan untuk hari ini. tapi ternyata aliran itu tidak mau berhenti. sekar yang tengah tertawa riang disampingnya, berhenti otomatis melihat keadaanya.
"ada apa?"
siti menunduk.
"kamu benar, seharusnya aku nggak usah begini. seharusnya aku gag peduli dari awal, seharusnya aku tahu ini nggak penting. aku nyesek kar, tepate malu. aku malu kamu lihat aku kayak gini. seharusnya aku gag nangis di hari ini. aku malu... huks huks huks..."
sekar menghela nafas. seakan bisa merasa sakit itu.
"siti... seorang sahabat bukan cuma ada pas bahagia dan bersinar, sahabat macam apa aku yang akan ngejek sahabat terbaikku saat melakukan kesalahan? aku disini, kamu nangis saja sepuasnya. nangis sampai bebas, kamu nggak akan aku lepas... hush..."
sekar merengkuh pundah itu perlahan. merasakanya berguncang kemudian. siti menangis deras. terpuruk di lengan sahabatnya.
babak 11
sekar melepas pelukannya. masih sesenggukan. mata mereka merah besar, tanda baru saja menangis sekian lama. ini hari terakhir. benar benar terakhir. sebentar lagi ijazah kelulusan akan dibagi. tinggal hitungan detik, dan mereka akan berbelok ke jalan masing masing.
"aku punya sesuatu buat kamu," sekar menghentikan ucapannya, untuk mengambil sesuatu dari dalam saku. sepasang kalung, kalung yang sangat indah.
"makasih udah mau ngasih buku berharga itu. aku pengen kamu jaga persahabatan kita kayak kamu jaga kalung ini".
sekar memisahkan satu kalung, dia genggamkan di tangan siti_yang sementara tak mampu berkata apa apa. merasa ini terlalu indah untuknya. terlalu merasa beruntung menemukan sahabat sewangi sekar seperti sekar.
"satu buat kamu, satu buat aku."
mata bengkak siti berair lagi. cepat dia peluk sekar penuh sayang.
kosong dan sebelas (next)
mereka berdua tersenyum, menghirup udara sejuk berhawa biru salju. duduk di rumput hijau muda, bertukar pandangan. lalu tiba tiba secara kompak dan bersamaan mengeluarkan kalung masing masing.
"masih?"
"selamanya dong! best friend...!" timpal siti bermuka cerah. sekar tersenyum.
"gimana kabar? masih suka gambar?"
"iya dong, kamu? masih nggak pede sama gambar sendiri?"
"iya nih, hehe... masih pengen jadi jurnalis?"
"iya. masih nggak tahu pengen jadi apa?"
"hu'um, tetep bingung. sampai sekarang, masih suka melakukan hal bodoh demi cinta?"
"hehe, malu nih. iya... masihlah, kadang. lha kamu gimana, masih males kenal sama cinta?"
"ya gini deh! apalagi mesti bayangin bakal nangis sendirian, kan gag ada kamu. tambah males ah!"
siti spontan tertawa. sekar masih sama. seperti dia juga yang tak banyak berubah. yah walaupun mereka sekarang beda jalan dan gag kumpul tiap hari kayak dulu, siti udah bersyukur kok. karena setelah berusaha keras, mulai begadang gambar, bonek sampai bolos kelas, dia bisa ketemu sekar hari ini. hari istimewa yang pas banget untuk menebus kesalahannya tahun lalu.
"tapi...ada satu yang beda."
sekar mengeryit. penasaran maksud ucapan siti.
dari dalam tas biru lapuknya siti beranjak mengeluarkan sebuah benda.
mata sekar membulat.
"karena kali ini, aku gag akan nangis di hari ulang tahun kamu. sanah helwah ya..." senyum manis itu datang penuh tulus. siti meraih tangan sekar dan menggenggamkan kado kecil itu di tangannya. tersenyum lebar dia tatap mata sekar. kali ini tidak akan dia hancurkan lagi hari ulang tahun sekar dengan tangisnya.
tapi begitu saja, malah mata sekar yang memantulkan kaca. ada bahagia, bersama kotak kecil bersemburat biru.
end_happy b'day_+_+

Komentar
Posting Komentar
mau ngomong? monggo....