seandainya pernah

aku membeku, menjejaki tanah tak basah sekeras batu. berumput, tapi kelabu. jelas saja sebab aku pula tengah berdiri di bawah ungu. ah, apakah ini ulah dramatisasi? seperti kata bintang tempo hari_aku berkhayal.
awalnya kukira bintang adalah kaca, kuat, tapi pasti hancur bila jatuh sekali saja. karena itu aku pernah amat terhanyut simpati tanpa alasan dan tiba tiba ingin selalu jadi langit yang memegang tanganmu, bintang.
nyatanya semua fikiranku salah. bintang adalah pencuri dengan sebilah pisau tajam. yang mengambil percaya, angan, bayang, hati, ruang, juga semua alasanku bisa bertahan, lalu bintang tanpa dosa mencabiknya sebelum hilang.
aku pernah bahagia.
bintang, kuharap dulu kamu tahu itu karena hadirmu. sinarmu yang terang tak menyilaukan, menarikku mendekat secara sadar. selanjutnya aku ingin terima, sinarmu dari senyum itu. aku suka ketika menemukanmu menatap ketakberartianku. melukisi mata kosongku dengan warna warna pastel. membuatku merasa aku punya tempat bersandar.
dan aku pernah bahagia.
bintang, mungkin bodoh tentang aku yang dulu sangka kamu telah menerimaku dalam beningmu. aku pernah, jujur, merasa menjadi malaikat bersayap. hingga walaupun adamu terlalu jauh tak terjangkau, ada aku, yang bisa perlahan lahan terbang. untuk menemanimu menantang malam. atau ikut menyapa bulan dari kejauhan.
aku sempat menerka rasa.
hah, memang benar kalau aku berkhayal. jadi kini aku hanya mampu tersenyum sinis sendiri.
karena pernah, bintang, aku merasa kamu adalah angin di depan wajahku. entah bagaimana aku mengira kamu adalah kristal biru, yang terindah, setengah bagian agak gila yang akan melengkapi aku dan hampa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita lama dan Penghianatan

my world...my words....

mencoba IKHLAS itu indah!