menyapa pejuang di bis malam
hummmmh......dingin sekali! kurapatkan baju lapisan keduaku lalu keluar dari neraka beku itu. dengan langkah lunglai aku masuk ke bis selanjutnya, bis malam kelas ekonomi. langsung saja kupeluk lutut dan duduk meringkuk. huwah, memang beginilah nasib anak pesisir, udah biasa kepanasan, eg malah nyoba2 naik patas yang ac_nya kayak kutub utara itu.... pokoknya kapok! mending naik bis nusantara aja seperti biasa.
seorang ibu setengah baya ternyata duduk disampingku. tubuhnya gempal berisi, tapi dari sorot mata sayu itu bisa kutangkap kesimpulan beliau sedang tidak sehat. karena sifat ngawur dan ingin tahuku, dengan santainya kami berkenalan. ternyata beliau ini orang pati juga, meski beda kecamatan, tapi gag begitu jauhlah dari rumah.
sifat ramah beliau membuatku larut dalam obrolan yang begitu panjang. cocok sekali, aku memang lebih fun jadi pendengar daripada pencerita. jadi sambil mengusir dingin, kudengarkan kata perkata dengan seksama.
dulu, mereka adalah sebuah keluarga bahagia, tapi dengan wajah tegar yang getas beliau melanjutkan', "yang namanya hidup pasti berputar nduk, saat anak2 kami masih kecil dalam artian usia sekolah, bapak meninggal karena sakit. ibu sempat down, tapi tidak lama. ibu tahu ibu punya tanggung jawab membesarkan anak2 dan membuat mereka berhasil di jalannya masingmasing. untunglah,ibu sudah masuk perhutanan waktu itu, dan alhamdulillah berhasil jadi PNS. maka, dari gaji paspasan pegawai ibu mulai hidupbaru." aku......hany bisa diam, merasa begitu kerdil berhadapan dengannya. beliau adalah kartini, simpulku dalam hati. wawasannya luas, bahasanya lugas, dan yang paling membuatku kagum, beliau begitu tabah. todak takut dengan cobaan apapun, bahkan 'kematian'.
"bagi ibu, hidup ibu ini sudah masuk fase akhir, jadi ibu sudah siap seandainya tiba tiba dipangil sama Alloh. badan juga sudah sering sekali sakit2an nduk. satu tahun lalu ibu kena serangan jantung, sampai operasi, tahun ini masih dalam tahap pemulihan. tapi kayaknya penyakit sudah terlanjur nyaman bersarang, belum juga sembuh total, kemarin ibu kena penyakit kulit. tanpa sebab, sekujur badan melepuh, gatal dan perih. untung ibu punya kenalan dokter kulit di wonogiri. ini ibu baru saja dari sana, dapat obat gratis."
aku menghela nafas, lega.... ikut merasa bahagia. percakapan berlanjut. atau lebih tepatnya monolog dengan satu pendengar, hehehe... beliau mulai bercerita tentang anak2anya. tiga perempuan. berkatkerja keras beliau, dua orang pertama sudah lulu kuliah dan berkeluarga mapan. satu di banjar, satu di irian. jauh....sekali. anak terakhir baru saja akan masuk SMA. tapi begitupun kartini itu tidak mengeluh ditinggalkan anak2nya.
"yah, bagaimana lagi? rejeki mereka disana ya sudah ibu nggak berhak maksa nduk.... apalagi jaman sekarang ka ada hape ada juga tri G jadi ya kalo kangen langsung telfon saja. wong tuo isone cuman dongakno mugomugo anak2 isih podho lurus.... kamu juga nduk, katanya mau kuliah di jogja tho/ nah, kalau sudah sampai sana, hati hati ya..... jangan sampai ikutan ruwet, kmu kudu selalu ingat sama niat dari rumah. "
aku mengangguk dengan senyum kikuk, tapi selanjutnya perhatianku terpecah. tidak terlalu fokus menyimak cerita yang masih mengalir. kau ingat, masa lalu, dan semua ketololanku membuang waktu dengan menyimpan sebuah rasa tak tentu. bodoh! baru kali ini aku sadar aku benar benar bodoh!
ya Alloh.... betapa besar hati ibu muda ini... hamba merasa seperti anak bawang, belum bisa melakukan apa apa. selain tentu saja, mengeluh dan meratapi cinta. malu malu malu..... andai beliau tahu kalau yang sedang duduk di samping beliau ini gadis lemah dan bodoh. pasti aku tak punya muka! huah, akuharus bangun. seperti kartini disampingku. saat jatuh atau hancur, tetap percaya bisa menjadi seseorang yang baru. ya, aku harus bangun mulai sekarang.
seorang ibu setengah baya ternyata duduk disampingku. tubuhnya gempal berisi, tapi dari sorot mata sayu itu bisa kutangkap kesimpulan beliau sedang tidak sehat. karena sifat ngawur dan ingin tahuku, dengan santainya kami berkenalan. ternyata beliau ini orang pati juga, meski beda kecamatan, tapi gag begitu jauhlah dari rumah.
sifat ramah beliau membuatku larut dalam obrolan yang begitu panjang. cocok sekali, aku memang lebih fun jadi pendengar daripada pencerita. jadi sambil mengusir dingin, kudengarkan kata perkata dengan seksama.
dulu, mereka adalah sebuah keluarga bahagia, tapi dengan wajah tegar yang getas beliau melanjutkan', "yang namanya hidup pasti berputar nduk, saat anak2 kami masih kecil dalam artian usia sekolah, bapak meninggal karena sakit. ibu sempat down, tapi tidak lama. ibu tahu ibu punya tanggung jawab membesarkan anak2 dan membuat mereka berhasil di jalannya masingmasing. untunglah,ibu sudah masuk perhutanan waktu itu, dan alhamdulillah berhasil jadi PNS. maka, dari gaji paspasan pegawai ibu mulai hidupbaru." aku......hany bisa diam, merasa begitu kerdil berhadapan dengannya. beliau adalah kartini, simpulku dalam hati. wawasannya luas, bahasanya lugas, dan yang paling membuatku kagum, beliau begitu tabah. todak takut dengan cobaan apapun, bahkan 'kematian'.
"bagi ibu, hidup ibu ini sudah masuk fase akhir, jadi ibu sudah siap seandainya tiba tiba dipangil sama Alloh. badan juga sudah sering sekali sakit2an nduk. satu tahun lalu ibu kena serangan jantung, sampai operasi, tahun ini masih dalam tahap pemulihan. tapi kayaknya penyakit sudah terlanjur nyaman bersarang, belum juga sembuh total, kemarin ibu kena penyakit kulit. tanpa sebab, sekujur badan melepuh, gatal dan perih. untung ibu punya kenalan dokter kulit di wonogiri. ini ibu baru saja dari sana, dapat obat gratis."
aku menghela nafas, lega.... ikut merasa bahagia. percakapan berlanjut. atau lebih tepatnya monolog dengan satu pendengar, hehehe... beliau mulai bercerita tentang anak2anya. tiga perempuan. berkatkerja keras beliau, dua orang pertama sudah lulu kuliah dan berkeluarga mapan. satu di banjar, satu di irian. jauh....sekali. anak terakhir baru saja akan masuk SMA. tapi begitupun kartini itu tidak mengeluh ditinggalkan anak2nya.
"yah, bagaimana lagi? rejeki mereka disana ya sudah ibu nggak berhak maksa nduk.... apalagi jaman sekarang ka ada hape ada juga tri G jadi ya kalo kangen langsung telfon saja. wong tuo isone cuman dongakno mugomugo anak2 isih podho lurus.... kamu juga nduk, katanya mau kuliah di jogja tho/ nah, kalau sudah sampai sana, hati hati ya..... jangan sampai ikutan ruwet, kmu kudu selalu ingat sama niat dari rumah. "
aku mengangguk dengan senyum kikuk, tapi selanjutnya perhatianku terpecah. tidak terlalu fokus menyimak cerita yang masih mengalir. kau ingat, masa lalu, dan semua ketololanku membuang waktu dengan menyimpan sebuah rasa tak tentu. bodoh! baru kali ini aku sadar aku benar benar bodoh!
ya Alloh.... betapa besar hati ibu muda ini... hamba merasa seperti anak bawang, belum bisa melakukan apa apa. selain tentu saja, mengeluh dan meratapi cinta. malu malu malu..... andai beliau tahu kalau yang sedang duduk di samping beliau ini gadis lemah dan bodoh. pasti aku tak punya muka! huah, akuharus bangun. seperti kartini disampingku. saat jatuh atau hancur, tetap percaya bisa menjadi seseorang yang baru. ya, aku harus bangun mulai sekarang.
Tak lihat tulisanmu ini kayaknya kamu pake metode menulis cepat n langsung di post.
BalasHapusAlangkah baiknya sebelum di terbitkan dibaca lagi and di perbaiki ejaannya....
oke boz, entri yg ini memang g pake editan, soale reflek ples mepet
BalasHapushe he he, maaf kalo bcnx jd g penak :)