Kereta Jum’at Sore

Tet tot tet tot tet tot tet tot…
“Keretanya Buk, sayang anak sayang anak… Momong sambil jalan-jalan, ayo ayo ayoooow…!”
+++
Malam itu bumi terasa agak lebih panas dari biasa. Bukan hanya karena di desa pesisir ini kemarau sudah mulai menyorongkan muka, juga ditambah suasana hati mbak Sainah yang tengah mangkel tiada tara. Bagaimana tidak? Jengkel matanya melihat rumah yang begini-begini saja. Kursi kayu lapuk tua warisan almarhum bapak, sepeda tua warisan bapak suaminya, dinding gedek yang sudah mulai tampak kehitaman, dan sebuah televisi kesemutan empat belas inci hasil kredit di toko pak Jaman. Tivi hitam berdebu itulah barang elektronik mereka satu-satunya, sekaligus yang belum kunjung lunas juga biaya kreditnya.
Mangkel dia tiap hari melihat ruangan ini-ini saja, benda ini-ini saja, dan kegiatan itu-itu juga. Memasak, mencuci, menunggu suami pulang dari tambak, dan bergosip menyimak bualan-bualan tetangga. Mungkin kalau mereka punya satu orang anak, satu saja, keadaan tak akan sampai segini membosankan. Hari ini suaminya dapat order nguli mikul ikan yang akan dipanen di tambak Pak Rahmat, kalau begitu dini hari biasa baru dia pulang. Rumah terasa begitu sepi, suara jangkrik ramai mengerik dari tanah kosong belakang rumah malah menambah kebosanannya. Kenapa suara jangkrik ya begitu-begitu saja?
Atau, kalau saja dia bisa ikut bekerja keadaan keluarga mereka bisa jadi akan sedikit lebih lumayan. Ya, paling tidak dia punya angan-angan mengganti dinding gedeknya yang sudah keterlaluan dekil itu. Tapi apa mau dikata, pekerjaan untuk wanita setengah tua bermuka pas-pasan sulit dicari. Mau kerja apa dia, nguli di pabrik garam? Nyablon? Atau matun sawah orang? Tak ada harapan. Sekarang pekerjaan-pekerjaan itu sudah penuh diincar anak-anak muda gigas lulusan SMP yang malas sekolah. Anehnya, makin lantang pak presiden pamer sekolah murah, malah makin banyak saja anak-anak muda baru gede yang lebih memilih kerja. Bilangnya, asal serabutan tak punya lembar ijazah yang penting kelihatan hasilnya. Benar juga.
Ah, andai dia punya satu saja anak…
Mungkin anaknya bisa dapat kerjaan di pabrik plastik sablon milik wak haji Mawi. Katanya wak Haji orang dermawan, tiap bulan pegawainya ditraktir makan di restoran. Kalau anaknya kerja disana, berarti dia punya kesempatan mencicip makanan restoran yang dibungkuskan wak Haji. Makanan restoran… dinding gedek baru warna keemasan…
Ah, andai dia punya satu saja anak…
+++
Si Upil menangis lagi. Anak itu, sudah hampir genap tiga tahun tetap saja manja tiada ketulungan. Mau tak mau Marni mencuci tangan juga. Cucian menumpuk itu mesti dikerjakan nanti demi menenangkan tangis si ‘Bayi’. Mau jadi apa kelak anak ini…, tak ada mandiri-mandirinya sama sekali. Makan minta disuap, minum maunya ditetek, tidur ditemani, buang air juga ditunggui. Sendiri. Mana mau tahu suaminya dengan semua tingkah anaknya yang menggemaskan? Yang penting Bapak bisa mengajaknya jalan-jalan sore tiap pulang kerja. Ah, pantas lengket kali anak itu sama bapaknya. Yang dia tahu bapaknya seperti pahlawan yang selalu membawa makanan enak dan menjanjikan tamasya kemana-mana. Sementara Marni tak ubahnya bagai nenek sihir, yang menerkam si Upil dengan omelan panjang tiap hari.
Ah, anak itu, ya, anak kecil memang tak tahu apa-apa, bukan salah dia. Mungkin Marni yang kurang sabar saja. Menurut orang desa dia termasuk wanita beruntung, bersuami pegawai bank yang dapat gaji pasti tiap bulan. Tidak seperti kebanyakan keluarga lain yang mengandalkan peruntungan musim pertumbuhan ikan atau hasil sawah tadah hujan. Jadi istri pegawai, tak perlu dia merasakan panas repotnya membantu suami menyaruki garam di kowen atau mengusir burung-burung emprit nakal di pesawahan. Tak perlu dia kemana-mana nyari hutangan kalau panen lagi tak bersahabat, atau dia juga tak usah kenal susahnya menghitung pemasukan keluarga yang mepet minta ampun mirisnya. Ya, kata orang Marni wanita beruntung.
Tapi ah, tapi sejak si Upil datang dari rahimnya makin jelas Marni tahu apa itu arti kata hampa. Dia mulai bosan bergelut dengan pekerjaan rumah tangga yang begitu itu saja. Kadang-kadang Marni bersyukur juga punya anak nakal, dia jadi bisa merasakan beberapa hal tak terduga yang mungkin dibuat ulah anaknya. Hal kecil menjengkelkan menjadi seperti hadiah kejutan, satu-satunya hiburannya ya itu. Meski marah, dia suka mengepel ompol Upil yang meleler kemana-mana. Atau meski malu, seringkali dia tertawa membatin tiap kali harus dimarahi tetangga karena Upil mengganggu anaknya. Upil malaikat kecil dengan tingkah sejahil setan, yang menganggap penyihir ibunya sendiri.
Bagaimanapun dia tetap mencintai anak itu, lebih dari dia mengharap lagi cinta suaminya. Pegawai bank yang hidup seperti robot itu terasa makin jauh. Yah, walaupun ada segunung rindu yang masih dia tahan untuk ditumpahkan.
+++
Bekerja lagi, lagi-lagi kerja, semua orang butuh tepatnya harus kerja. Linda menarik malas tubuhnya bangun dari peraduan. Jam empat dinihari, dia harus cepat-cepat mencuci, bersi-bersih rumah, dan membuat menu sarapan sederana sebelum semua penghuni rumah bangun. Pekerjaan terakhir adalah yang terberat. Bukan karena dia tidak pandai memasak, namun terlalu banyak ‘keluarga’ yang makan di rumahnya.
Adi suaminya adalah orang baik, dia tahu itu, tapi menurutnya Adi juga sedikit memelihara sifat bodoh. Atau dalam bahasa sedikit halus bisa dikatakan tidak peka. Tanpa pertimbangan rasional ataupun berdiskusi dengannya tiba-tiba saja Adi meminta kedua mertua dan dua saudaranya untuk ikut tinggal di rumah kecil mereka. Si adik bungsu menikah bulan lalu, karena itu Adi meminta mereka pindah agar rumah lama dapat ditempati pengantin baru. Tampak seperti malaikat, ya, suaminya senang sekali bersikap seperti itu. Malaikat yang egois. Adi mengambil keputusan itu tanpa bertanya dulu dengannya. Padahal usia pernikahan mereka juga belum terlalu lama, menginjak tahun ketiga. Masih banyak hal yang harus diadaptasikan.
Adi tak pernah bertanya bagaimana repotnya Linda membagi waktu antara mengurus anak usia dua tahun, dua mertua, dua saudara, dan bekerja. Yang dia pedulikan hanya makan, pergi ke tambak mengurus ikan atau koen-koen garam, pulang, bermain dengan Dafa, makan lagi, dan tidur. Sebelum menikah dengan Adi dia sudah punya tanggung jawab bekerja mengajar anak-anak playgrup desa yang masih kekurangan tenaga pengajar. Namun dari awal pernikahan mereka, Adi tampaknya tak pernah peduli dengan pekerjaannya itu. Pekerjaan yang tak pernah dianggap ada. Ya. Mungkin memang karena gaji seorang guru playgrup tidak seberapa atau keluarga suaminya menganggap pekerjaannya tidak bergengsi. Itu terserah mereka, tapi kalau boleh berteriak Linda ingin minta satu hal “tolong jangan memberatkan seperti ini!”
Rutinitas yang harus dia lakukan terlalu menguras waktu dan tenaga karena tidak seorangpun dari ‘anggota keluarga’ bersedia membantu. Tidak mertuanya tidak pula saudara-saudara iparnya. Mereka masih saja memposisikan diri sebagai tamu yang harus dilayani. Ah, itu belum seberapa dibanding sikap menjengkelkan mereka yang suka sekali mengkritik caranya mendidik anak. Apapun ulah Dafa mereka melarang Linda memarahinya. Padahal Linda ingin Dafa kelak menjadi seorang yang berani mandiri, bukan anak lembek yang tak mau ditinggal orang tua.
Hari ini genap lima bulan mereka menjadi tamu di rumahnya. Tamu? Entah kapan mereka akan memutuskan pulang, atau dengan tulus membaur dalam satu keluarga. Linda sudah tak berani berharap lagi, sekeras apapun dia berusaha mendekati mereka, tetap saja tembok yang berdiri menghalangi itu terlalu tinggi.
+++
Tet tot tet tot tet tot tet tot…
“Keretanya Buk, sayang anak sayang anak… Momong sambil jalan-jalan, ayo ayo ayoooow…!”
Kereta mini warna-warni itu membelah jalanan kecil desa pelan tapi pasti. Bunyi mesin dan musik anak-anak terdengar keras sampai radius seratusan meter. Tampak ibu-ibu bersama balitanya menunggu di tiap ujung gang. Kosim pemilik merangkap kernet kereta tersenyum tipis, dia akan menaikkan sebanyak mungkin penumpang sampai kereta benar-benar penuh. Ibu-ibu itu sudah menunggu penuh harap untuk bisa jalan-jalan sekedar ke alun-alun atau pelabuhan kota. Dia tak ingin mengecewakan mereka semua, meski seringkali tetap ada yang tak kebagian tempat duduk juga.
“Satu kursi tiga ribu, sayang anak sayang anak, ayo ayo ayow……!”
Tiga orang wanita naik bersamaan, Kosim tersenyum manis pada mereka. Ini pelanggan tetap, mbak Sainah, Marni, dan Linda teman kecilnya waktu SD. Ketiganya tak pernah absen mengisi bangku deret ketiga di keretanya. Mbak Sainah yang tak punya anak selalu tampak bahagia menggoda Ulpa dan Dafa. Kosim suka melihat penumpangnya bahagia. Karena itu, sebisa mungkin dia tak akan absen mengoperasikan kereta mininya tiap jum’at sore. Ya, meskipun Wati tunangannya lagi-lagi harus merengut karena tiap jum’at Kosim tak bisa menjemputnya saat pulang kerja dari pabrik garam.
Biarlah, wanita di desa ini krisis hiburan, tidak seperti kaumnya yang bebas plesir kemana saja sekalipun sudah beranak lima. Biar angin sore dan hingar jalanan memberi sedikit penawar kebosanan. Kosim tak berharap apa-apa, hanya bahagia melihat mereka masing-masing ribut membicarakan semua penat dalam seminggu. Kereta yang berjalan memang akan pulang namun kereta yang selamanya diam bahkan tak akan tahu apa itu pulang.
“Pada mau plesir kemana ibu-ibu semua? Pelabuhan atau alun-alun?”
“Dua-duanya….!”
+++
S. Wahyuni
Maret 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita lama dan Penghianatan

my world...my words....

mencoba IKHLAS itu indah!