Wanitamu Membawaku Pulang


Dari kasak-kusuk warga aku tau wanitamu itu tidak gila. Matanya memang tak pernah bergerak penuh ekspresi seperti orang kebanyakan, tetapi pupilnya fokus, menatap satu arah dengan binar yang sama. Pakaiannya memang lusuh, seragam putih abu-abu, yang kini lebih cocok disebut coklat dan kelabu. Tapi aku tau dia tidak gila, seragam itu selalu licin rapi, bekas tindihan setrika ribuan kali. Mana mungkin orang gila sadar untuk mandi, mencuci, dan menyetrika?
Belum, belum saatnya kamu kecewa. Dia tetap cantik, tenang saja. Hanya kini dia menjadi wanita penyendiri yang tinggal di sebuah gubuk kecil pojok kampung. Satu setengah meter persegi kira- kira lebar gubuk itu, satu buah kloso tergelar di tengah sebagai alas tidur dan tempat menata dua setel seragam putih abu-abu. Mbak Ina, mantan pembantu rumah tangga keluarganya menceritakan seluk-beluk rumah gubuk itu padaku. Setiap hari, meski wanitamu sudah resmi diusir dari keluarga besar Sastrotomo atas perintah tuannya, tuan Sastro sendiri, mbak Ina selalu mengirimkan nasi dan lauk pauk makan tiga kali dalam sehari.
“Dia selalu pelan berkata terimakasih sama saya Dek, pernah juga saya dikasih mangga kemampo yang entah darimana, manis luar biasa!”
Seperti kata-kata lain yang kudengar dari mulut wanita ini, dia selalu menyiratkan getar hormat berpadu kagum dalam setiap cerita.
_
“Aku yakin Bang, wanitamu bukan wanita gila.”
“Apa…?”
Terkejut kamu menoleh cepat. Ah, tidak bisakah kamu tunjukkan setitk saja kepercayaan padaku, Bang? Emosiku tersentil sedikit sebenarnya, sebulan penuh sudah aku menjadi penguntit perempuan malang berlabel gila itu demi kamu, tapi tetap saja kamu ragu-ragu. Selalu. Ragu. Selalu ragu-ragu. Kehati-hatian yang melahirkan ragu tanpa akhir akan menyakiti banyak perasaan entah kamu sadar atau tidak.
“Abang tidak percaya? Kalau Abang masih tidak yakin juga ya temui saja mbak Narti sendiri lalu tanyai, ‘Narti kamu gila tidak’?”
Abang tersedak.
“A…a…aaah! Jangan langsung sensitif begitulah, kayak perempuan saja.”
Aku menghela nafas, abang menghindar lagi. Terlau menakutkankah perempuan itu untukmu, Bang? Karena kamu sudah melakukan kesalahan besar pada hidupnya? Sebagai adik aku kecewa, masih sebesar ketika kamu bercerita tentang dia padaku semester lalu.
“Temui dia Bang, serius!”
“…”
“Abang ingin menunggu lagi? Sudahlah Bang, mumpung kita berdua sedang di rumah… nanti kubantu ngomong.”
“Ngomong sama siapa?”
“Semua, semua orang yang perlu tahu tentang Abang dan Mbak Narti.”
Mukamu itu Bang, lucu sekali. Seperti katak meronta dalam rebusan.
“E…. nanti dulu saja ya, setelah Abang wisuda SII bulan depan. Bagaimana?”
Manusia, abang benar-benar manusia murni yang tak pernah berhenti merasa puas. Entahlah, pikir sendiri saja. Sejak awal ini masalah kalian berdua. Lebih enak pergi jalan-jalan, berkeliling, mungkin bisa sambil mengamati tingkah mbak Narti. Jam lima sore, bisa jadi dia sedang mencari kayu bakar rontokan di pinggir hutan sekarang.
“Lho, jangan pergi dulu Di!”
_
Aku tak mengerti mengapa abang terlalu gandrung belajar. Untuk apa manusia mengejar gelar dengan mengantongi titel? SI SII SIII, apa itu? Ah, masih belum puas juga abang mencari kebahagiaan sendiri. Mengejar titel mungkin memang bakatmu sejak muda, tepat setelah kamu kelas tiga SMP. Ketika bapak berkata lantang bangga melihatmu selalu menjadi juara kelas. Tampaknya Abang termotifasi dengan sanjungan bapak, karena setelahnya kegilaan belajarmu meningkat pesat jauh dari biasa. Menaikkanmu semakin tinggi ke langit, menjauhkan jarak kita.
Tapi di kota kecil ini Abang mungkin belum menyadari satu hal yang lebih penting_daripada mengejar lembar-lembar bukti kelulusan_ ‘melangkah ke tanah’. Ijazah adalah tiket untuk melangit, sementara melangkah ke tanah dan berbaur bersama para kuli sawah adalah tiket untuk membumi. Karena itu aku malas melanjutkan kuliah. Manusia punya pilihan untuk menilai dan memilih sesuatu, memang, dan pilihan mereka bergantung sepenuhnya dengan watak pemikiran _yang berbeda-beda. Membuat semua hal tampak berkemasan putih namun berinti seragam abu-abu. Membuat kita semua sama. Seperti aku, seperti abang, seperti langit, seperti bumi. Apa langit pernah ingin turun ke bumi? Atau pernahkah tanah ingin menjadi awan? Entah apakah mbak Narti pernah menyesal dengan kelakuan Abang dan pilihannya. Ah, mbak Narti… seperti tanah ini, yang mengalir hidup dengan hujan.
“Hm!”
Ada suara muncul dari sampingku, atau hanya angin?
“Hm!”
“Whoa!!! Mbak Narti!”
Hampir saja aku jatuh ke sungai Bang, wanitamu ini berdiri tegak di sampingku entah sejak kapan. Senyum kecilnya muncul berulang, membuatku tak mampu bergerak. Bingung. Sementara seragan putih abu-abunya, yang memang selalu licin itu sedikit berkibar tertiup angin. Tunggu, ternyata dari dekat mbak Nartimu tampak lebih dari cantik, wajahnya cerah bersih. Bagaimana bisa wanita gila _ah tidak_ kurang waras, berseri sebersih ini? Terlau banyak pertanyaan berputar-putar di kepalaku dan membuatnya semakin berdenyut pusing.
“Untuk adik, mangga.”
Hm?
Dia letakkan mangga kuning besar itu di bawah kakiku, lalu tersenyum lebar.
“Hehehehe… Narti, dapat dari hutan! Makan, dan pergilah!”
Hm?
Dia tersenyum lagi, sama sekali tak tampak seperti senyum orang kurang waras. Hanya seperti metode hipnotis, senyum itu membuatku mengangguk saja. Sejujurnya Bang, ada rasa segan yang entah bagaimana mengisapku begitu saja. Siapa yang bilang orang gila _tepatnya tampak gila_ menakutkan? Mereka bukan salah, hanya belum bertemu dengan perempuan bermata dalam ini. Mata itu mengisapku sangat jauh.
“Hehehehe… Narti, tidak menyesal! Memilih, seperti yang lain. Narti tidak menunggu! Memilih bukan berpikir memilih, melangkah bukan berpikir melangkah. Hee… Narti, tidak mau berpikir!”
Hm?
“Makan.”
“Makan?”
“Makan, dan pulang jalan!”
Tegas, dia berkata Bang. Namun senyum kecil bertubi tak pernah henti. Setelah itu dia berbalik pergi begitu saja. Kupandangi sosok tubuh pergi menjauhnya seperti pelayan lugu, ah! Pohon-pohon latar belakangnya itu bergerak gemerising seperti anak-anak kecil yang mengejekku. Ya, kita semua memang anak-anak kecil asuhan ibu bumi. Namun tak pernah aku merasanya senyata ini. Wanitamu Bang, Nartimu, membawaku pulang. Darimana dia dapat mangga sebesar ini dalam hutan lebat kalau bukan ibu sendiri yang memberi? Kebun ibu yang kita anggap tanah liar. Nartimu, yang kini tengah menoleh dari teras pohonan, meringis padaku bersama semua benda yang kutahu saat itu. Daun, angin, tanah, air, bersama udara mereka menyatu. Menatap langkahnya, tiba-tiba aku merasa tak berguna, hanya seorang anak kacang yang lama lupa pada kulitnya.
“Sssyuh ssh ssh, pulang jalan! “
Teriaknya lantang. Aku tersenyum kecut menatap si Mangga.
_
“Nak, ibuk kok sedikit kaget, kenapa Yudi adimu yang sudah malas kuliah itu tiba-tiba ingin balik Jogja ditambah janji wisuda tahun depan? Apa sakit ya?”
Aku tersenyum, ibuk benar-benar mencemaskanmu, Di. Ketika suatu sore tiga hari lalu kamu pulang dengan senyum penuh kemenangan dan sebuah mangga besar masak di tangan. Orang rumah tak mengerti apa yang kamu alami, tapi aku tahu. Wanitaku telah membawamu pulang, pulang jalan, pulang untuk siap berjalan.
Ada yang melangkah ke depan, namun tak sedikit pula yang memilih berjalan berputar untuk menjaga yang telah dia punya sebelumnya. Ya Di, seperti wanitaku itu. Aku tak pernah meninggalkannya, tapi dia yang memilih meninggalkanku. Untukku. Tepat di penghujung SMP, saat yang lain tengah sibuk berbahagia menanti masa SMA, kami kebingungan memikirkan kesalahan besar yang telah kami lakukan. Dia yang mengandung benihku namun meninggalkanku begitu saja. Sore itu masih menyisakan rasa gemetar sampai kini. Malaikat kami tak pernah sempat dilahirkan dan dia _seperti yang dia janjikan_ tak pernah membiarkan siapapun tahu penanggungjawabnya. Tapi kami telah saling meninggalkan terlalu jauh. Teramat sangat jauh. Dia memilih hidupnya sendiri dan memilihkan hidup yang lain untukku. Melihat mukamu hari itu, aku yakin Narti juga telah berhasil memilihkan hidup untukmu. Nartiku…
_
“Sekarang Abang tahu kamu sudah mengerti.”
Kamu tersenyum, mengangguk percaya diri.
“Ya, aku pulang!”
“Dia tidak pernah gila, abang yang menggilainya sampai sekarang.”
“Pantas, hukumanmu!”
Hatiku _perih_, dasar kurang ajar. Ya, memang hukumanku, untuk membuatnya pergi.
“Sudah jangan tertawa lagi, lakukan saja apa yang Narti minta! Pulang berjalan seperti abang, mencoba agar tak pernah berhenti berjalan. Karena seperti inilah hidup kita.”
Kamu melirikku penuh arti, lucu, kamu telah berubah sangat jauh, Di. Narti merubahmu dalam sekali hisap. Kembalilah sana, selesaikan kuliahmu yang dulu kamu minta! Berjalan saja, jangan pikirkan akan sampai mana dan jadi apa kamu esok hari. Berpikir dengan kesombongan seperti yang dulu selalu kamu yakini tak akan pernah bisa membuatmu bergerak.
“Memilih bukan berpikir memilih, melangkah bukan berpikir melangkah.”
Ya, dan kamu gumamkan kata itu bersamaan denganku.
+++untuk; alm. Kuntowijoyo
S. Wahyuni

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita lama dan Penghianatan

my world...my words....

mencoba IKHLAS itu indah!