Basa Basi Tapi Datang Juga

Ceritanya malam sedikit sibuk benar jika ingin jujur. Tetapi dapat kabar sebuah acara bincang sastra dengan poster nama Sapardi Djoko Damono juga Djoko Pinurbo, cukup menggodaku.

Jadi, agar tak kacau kubereskan tumpukan kerja dan pesan-memesan lebih awal dari hari biasa. Untuk menunjukkan tekad, kuulang-ulang juga harapku buat datang pada Tiyok, sore itu.

"Sebaiknya kita datang, aku cukup penasaran"
"Bang Pao saja sudah berkomitmen betul, meski job joki skripsinya lagi rame," lanjutku.

Tiyok, yang kukira cuma bakal diam ternyata menjawab cepat, "Oke, sudah lama aku pengen ketemu mbah Pardi"

Lebih lega mana antara dapat pelulusan atau mendengar Tiyok mengatakan asanya, setelah bertahun-tahun tak mau sentuh apalagi baca-baca perihal sastra. Di hari kemarin dia masih menatapku sedikit iri, sebal, sedikit kagum, dan menerawang ketika aku mulai membuka buku. Namun entah ada angin apa, atau memang sudah tidak tahan 'berbohong' pada gelesak di dadanya.

Nah, sebenarnya laki-laki kurus ini ada masa dijuluki penulis muda jenius, meskipun,  menyerah entah sebab yang mana. Aku tahu sendiri memang terlalu baur variabel yang dia pendam, tapi paling banyak tempat kukira masalah perut dan kebutuhan.

"Aku sudah takut, mungkin malah gentar saat melihat buku. Tampaknya aku memang penghianat berjiwa lemah." Akunya, saat sedang ngopi santai berjam-jam suatu sore.
"Halah! Semua orang merasa takut, juga rendah, juga bajingan, masalahnya akan terasa ringan jika kamu bisa membayangkan orang lain sama seperti dirimu!" Tandasku arogan.
"Dalam satu arti aku pun pecundang, hanya menulis di sela-sela rasa malas, lebih banyak umbar kata-kata saja." 
Dia tersenyum, sedikit meremehkan kurasa. Semoga saja sekedar perasaanku. 

Jadi sejak sore itu aku tidak pernah lagi tanya Tiyok masalah isi buku, atau progress karya atau apa-apa berkaitan dengan ideologi. 'Terlalu sok!' katanya itu 'bukan omongan orang-orang lapar'. Banyak yang kita obrolkan sekedar cara dapat makan, dan bertahan hidup tanpa bekerja pada orang.
Pernah suatu waktu sebab dekat dengan Tiyok ini, aku jadi sinis sekaligus pragmatis. Kuremehkan apapun yang hanya berisi teori, apalagi sebatas ide! Semuanya omong kosong, kalau tidak bisa mengenyangkan perut yang kian kempis makin hari.

Jadi singkat kalam setelah melanglang berbagai-bagai macam kerja serabutan, kami jadi perajin alias seniman kapitalis. Tentu saja, sebab kami jual produk lewat media sosial, sistem pembayaran online serba kekinian, dengan harga 'lumayan' pamer tampang. Bisa juga dikata oportunis, sebab barang yang kami jual justru tidak terbeli oleh orang-orang di lingkungan kami sendiri. Tidak masalah, aku memang doyan makan, meski sesekali puasa pas saja merasa sudah berlebihan. 

Jadi kami lanjutkan kerja seni abal-abal itu. Beberapa teman dengan perut lapar atau badan lemas tak beruang pun datang, dan kami senang sekali. Ada rasa lega dengan membantu teman, meski berbagi keuntungan ala kapitalis. 

Sebab keadaan keuangan yang membaik itulah, mungkin sekali, Tiyok jadi berani ngimpi lagi. Tanpa sadar, dia sudah membuka peti karatan berisi setengah dari keinginan hidupnya. Dan aku, beginilah nasib wanita, merasa bahagia melihatnya berjalan jadi utuh.
Secara tidak resmi, sejak memutuskan hadiri festival sastra itu kami akhiri cara hidup berprioritas kejar makan kejar uang. 

Saat datang, sebab memang sudah telat sekitar satu jam, lahan kumpul penuh sesak ratusan orang. Aku diam santai di pinggir jalan, siap-siap jika dia ngajak pindah ngopi di tempat sebelah. Sebenarnya aku juga sudah berencana pergi sendirian, menyusul Bang pao dan kawan lain yang kata whatsapp sudah ada di TKP duluan. 

Tapi nyatanya Tiyok tidak putar balik, jalan terus, bahkan kulihat tiada ragu takut di mukanya. Sedikit, sepintas saja, aku ingat dia mirip Tiyok lama beberapa tahun lalu. 

Tidak ada tempat santai di bagian belakang, semua penuh sesak, jadi kami lanjut menyibak sibak sampai depan. Sebab ini Indonesia, benar saja bagian depan jauh lebih lega. Cepat aku putuskan menyelinap duduk di tepi barisan agak depan, tapi ternyata tiyok tidak mau jadi bututku. Dengan pongah dia melirikku sedetik, lalu lanjut menyibak kerumunan. Kuikuti dia yang lurus ke depan, dan belok kiri tepat di bagian paling lega yang tidak kalah kurang ajar. 

Duduklah kami, dengan ajakan si Arogan Tiyok, di atas meja, berdampingan tepat bersama bagian para bintang acara. Ya, dua meter dari kami duduk santai simbah Sapardi penyair itu, dan mas Djoko, dan Djoni, dan beberapa penulis lain. Terbungkus tembok transparan antara kami dan mereka, yang tampak lebih terang. Mungkin perasaanku saja itu. 

Di sampingku, Tiyok masih tidak banyak bicara, mengamati mereka satu per satu. Kadang tertawa-tawa, kadang diam lagi, kadang mengambil foto, kadang mengganti posisi duduk. Dia banyak-banyak memandangi orang, dan merenung juga tampaknya. Sudahlah, kupungut gelas plastik yang tiduran malas di atas lantai, mengisinya dengan air galon entah milik siapa, dan minum dengan puas.



Setitik cerita, festival sastra 2017 di basabasi cafe. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita lama dan Penghianatan

my world...my words....

mencoba IKHLAS itu indah!